Cari Blog Ini

Kamis, 12 Mei 2016

BANGKALAN SEPERTI RIMBA AFRIKA (ADA SINGA, SERIGALA, DAN GAJAH)

Membaca sosial media miliknya Kacong terlihat sangat gembira. Tampak sekali di wajahnya. Bahkan, tanpa sadar terlontar di mulutnya sebuah ungkapan yang penuh gembira.
“Wah, akhirnya Tuhan benar-benar ada.”
Ungkapan yang aneh dan tidak lumrah. Ba Latip yang saat itu sedang memberi makan burung segera menoleh. “Ada apa lagi? Sekarang malah berbau tobatnya orang ateis. Memang dulu kau tak percaya Tuhan?”
“Bukan begitu, Ba. Ini lho baca tautan berita di sosial media. Singa pemangsa kita telah ditangkap KPK. Rasanya dulu tak ada yang berani padanya. Semua kasus hukumnya selalu

Jumat, 06 Mei 2016

KRITIK ITU SERANGAN

Kelas baru bubar. Sambil memeriksa tugas administrasi dalam presensi saya tak langsung keluar. Tak ada yang perlu dikejar. Tak ada yang menunggu atau pergi meninggalkan kita. Yah, mengatasi impuls yang harus selalu ditekan agar selalu tenang dan damai. Dalam kelas yang telah sepi, tengah hari, Arfageddon masuk dengan sapaan khas dan menanyakan endorsement pesanannya. Bicara tentang pendidikan. Tentang penghargaan terhadap ilmu. Tentang formalitas yang tidak perlu dibesar-besarkan. Tentang seremonial yang menguras waktu dan tidak untuk apa-apa.
Ia juga berbicara tentang karya. Tentang buku yang hanya penting untuk akreditasi, sedang setelahnya ya.... ENTAH. Kekecewaan. Itu yang kutangkap dari pernyataannya. Dikucilkan, dimusuhi,

Jumat, 29 April 2016

DALAM SAKIT

Dalam keadaan kurang sehat ia menemuiku memaksa diri untuk duduk meski dalam keadaan lemah. Ia berkata, “Mereka sering menyarankan padaku jangan menyerah pada sakit.” Hening sebentar. “Mereka pikir manusia itu sama. Ada orang yang kalau sakit dibawa kerja bisa sembuh. Ada yang tak menghirau kan sakitnya. Itu pernah ku lakukan. Dan kau tahu? Bukannya sembuh malah sakit semingguku kambuh. Sembilan hari. Kata orang Madura kapolèan. Kau boleh tak percaya.”
“Gak ke dokter, Ba?”
“Aku kurang percaya pada dokter. Mereka itu bajunya saja yang putih. Kita tahu sendiri praktiknya. Di rumah sakit tempat ibadah mereka itu, berapa banyak pasien ditelantarkan

Jumat, 22 April 2016

APA PEKERJAAN PAPAMU?

Kali ini bukan Ba Latip yang berbicara. Saya sendiri. Siapa saya? Kalian tidak tahu? Tapi, tahu pun tidak penting. Sebab, saya orang tidak penting. Dan kalian minggir, dengar baik-baik, sebab, orang tidak penting hendak bercerita. Maaf bercanda.
Sepulang sekolah Kacong dan Jhebbhing sibuk dengan mainan-mainannya yang tidak terlalu banyak. Cukup lama mereka bermain sampai saat mamanya, sebut saja Mama, pulang dari sekolah. Mengajar. Karena penat Mama tidur-tiduran di ruang depan. Kacong dan Jhebbhing segera berbaring di kanan kiri Mama. Mungkin bosan dengan mainan mereka. Entah ingatan dari mana Kacong bertanya, “Ma, kata orang Papa itu dosen. Dosen itu apa, Ma?”

Jumat, 15 April 2016

KAMU BUKAN SASTRAWAN, TAPI POLITISI?

Dalam suasana santai di gardu itu duduk Bung Zaki. Gardu tempat mereka, orang komunitas, berkumpul. Yang lain belum datang. Di tangannya sebuah antologi puisi sastrawan lokal. Dicetak sebagai karya awal. Pengantar harapan dan kebanggaan yang siap diraih. Wajahnya menampakkan rona serius dan fokus. Kadang mengangguk kadang menggeleng. Kadang tersenyum. Tapi lebih banyak mengerutkan dahi. Tak bisa ditafsir apa di kepalanya. Yang terlihat ia hanya membuka-buka lembar-demi lembar. Pada saat tepat datang Sapto mendekat. Penyair muda berbakat. Dengan tekat berusaha cita-cita didapat.
“Lagi asyik, Mas? Serius sekali.” Pembuka bicara yang klasik tapi tetap efektif.
“Ya, bisa dibilang begitu. Buku teman kita. Saya coba mencerna memahami dan menilai.

Jumat, 08 April 2016

PRODUKTIF, MASTERPIECE DAN PASARAN

Mencipta merupakan sifat manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan yang lain. Yah mencipta. Ada yang tinggi karena mencipta yang benar-benar dibutuhkan oleh peradaban seperti teknologi yang membantu paling banyak kemanusiaan seperti bola lampu yang melahirkan dunia elektronik saat ini. Mungkinkah ada televisi ada kalau listrik untuk lampu tidak menyelusup ke area terdalam rumah-rumah? Tentu tidak bukan?
Bagaimana dengan kreasi yang tidak “besar”.
“Produktif sekali kau cipta puisi?” Ba Latip bertanya pada Bang Rosi, seorang penyair muda yang baru-baru ini menerbitkan antologi puisinya.
“Oh, ini bagian dari gejolak muda saya, Ba. Menunjukkan bahwa ada dorongan untuk mencipta.”

Jumat, 01 April 2016

SETIA

Pagi yang cerah. Matahari terang sempurna, tak terhalang mendung atau mega. Di bawah rindang pohon mahoni sebuah halaman sekolah Jhebbhing duduk seorang diri. Pukul 06.30 di sekolah belum terlalu banyak yang datang. Iseng menunggu dan suasana mendukung syahdu membuat novel menjadi alternatif yang tepat menghabiskan waktu. Yah, timbang nganggur.
“Hai, sendirian? Boleh saya duduk bareng?” sebuah suara menarik wajahnya untuk mendongak. Suara yang sangat dia kenal. Setyanto atau Anto. Kakak kelas ganteng, keluarga orang berada, dan yang terpenting cerdas. Pokoknya cool, macho, sempurna. Idaman semua. Orang yang selama ini dekat, akrab dan familiar menjadi penggalan cukup dominan

Jumat, 25 Maret 2016

ANTI YAHUDI

“Wah geregetan. Coba dekat sudah aku pites-pites. Jengkel. Mana yang setetanggaan pada sibuk dengan bertengkar di dalam?” Kacong menggerutu sambil mengutak-atik gadjet-nya. Ada marah dan jengkel pada roman mukanya.
Seperti biasa Ba Latip yang sedang sibuk dengan burungnya hanya geleng-geleng kepala. “Ada apa, Cong. Pagi-pagi kok sudah bad mood. Something wrong, yâh?”
“Ini Ba, baca berita Palestina dan Israel. Selalu saja ada korban sipil. Mana Amerika yang katanya polisi dunia. Kok ada pembiaran seperti ini? Kalau ada konflik di negara ‘Islam’ mereka menari-nari dengan unjuk senjata canggih. Buruknya, negara-negara Islam yang seharusnya menjadi tumpuan harapan tidak bisa apa-apa.”
“Termasuk kamu kan yang tidak bisa berbuat apa-apa?” kata Aba sambil tersenyum geli.
“Siapa bilang, Ba. Saya sudah berbuat banyak mulai dari boikot produk orang-orang yahudi sampai menghapus yang berbau yahudi.”
“Wah kuno kamu.”

Jumat, 18 Maret 2016

SASTRAWAN DAN BUKAN SASTRAWAN


Malam ini malam Minggu. Ba Latip tak punya acara untuk dikerjakan atau dihadiri. Terbersit di kepala untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Ah itu kerja. Kasihan otakku harus bekerja penuh dalam satu pekan. Main. Yah, betul. Tapi,.... ke siapa? Tiba-tiba muncul satu nama Bung Helmi teman kuliah dulu. Seorang sastrawan.
Maka dikeluarkan sepeda motor pusaka terbitan jepang yang setia. Motor pun berderum tanda hendak berangkat. Tidak lupa sebuah tas berisi buku dan gadget yang selalu harus dibawa. Melalui Bong Miring ke utara lalu berbelok di Tunjung terus ke barat menuju kota. Dari Kraton ke selatan sampailah di Taroghan. Segera masuk gang menuju rumah Bung Helmi.
Sampai di sana seperti yang terbayang dalam hatinya, tak akan sepi. Banyak orang-orang seni berkumpul. Yah, orang-orang muda. Dengan pembuka salam masuk dan disambut dengan sebuah buku. Buku antologi puisi seorang seniman. Dari musik. Tapi, buat puisi. Unik kan?
“Bagaimana kabarnya?”
“Baik.”
“Tumben kesini.”

Jumat, 11 Maret 2016

ALIRAN SESAT

“Wah, ini baru seru.”
“Apanya yang seru, Cong?” kata Ba Latip.
“Ini, Ba. Kiyai se-Bangkalan bertemu untuk membentuk aliansi menangkal madzhab sesat.” Kata kacong dengan penuh semangat.
“Lo, ada orang bikin aliansi kok seru? Serunya di mana cong?”
“Ya, kan ada dua kubu, nah kubu tradisional rupanya merasa terancam. Makanya merapatkan barisan.”
Setelah menyeruput kopi hitam. “Lalu hasilnya apa cong.”
“Kan sudah jelas tadi Ba? Ya merapatkan barisan.”
“Maksudnya merapatkan barisan itu hasilnya apa?”
“Aliansi, Ba? Pertanyaan Aba ini kok aneh? Gak mutu.”
“Eeee... Jangan salah. Aliansi itu hasilnya apa?”
“Deklarasi.”
“Lalu.”
“Terbentuklah organisasi baru tempat berkumpul.”

Jumat, 04 Maret 2016

KORUPSI

Pagi-pagi, Kacong duduk minum kopi sambil mengobrak abrik layar gadget kesayangannya. Mukanya merah menatap tajam layar LED.
“Bangsat orang-orang Senayan itu!” gerutunya agak nyaring.
Ba Latip yang sedang merawat burung-burungnya sedikit mendongak.
“Ada apa Cong? Kok, marah-marah sampai Senayan? Apa kamu punya urusan dengan orang sana? Setahu Aba kau hanya mondar-mandir Burneh-Bangkalan, Bangkalan-Burneh. Paling jauh Surabaya. Itu pun beli buku untuk tugas. Kalau tak ada tugas paling main PS.”
“Ini Ba. Lagi-lagi DPR tertangkap KPK. Makin banyak saja dari tahun ke tahun. Apa jangan-jangan mereka semua koruptor? Wah, bagaimana mau maju negara ini kalau dana pembangunannya di korupsi?”
“Lalu?”
“Kalau aku jadi DPR akan kulibas semua. UU KPK akan kuperkuat. Hukuman koruptor harus diperberat. Dan.....”

Sabtu, 27 Februari 2016

CERMIN (Cerita Mini)

Terinspirasi oleh tulisan-tulisan kolom surat kabar yang berisi cerita fiksi sangat ringkas, saya ingin menulis cerita fiksi berisi ide tentang Bangkalan baik dari sisi kekhususan maupun sisi universal. Cerita singkat ini saya sebut Cerita Mini atau cermin. Tokoh yang di angkat adalah tokoh-tokoh khas Madura ala saya.

Tulisan ini tidak untuk menyinggung. Hanya menyampaikan ide. Dan tokoh-tokoh dalam cerita ini tidak nyata, tokoh fiktif. Segala isi yang terdapat dalam tulisan ini saya anggap fiksi dan sastra. Jadi tidak bisa dianggap sebagai kebenaran. Hanya ide yang berusaha memasuki kepala Anda semua. Waspadalah. Waspadalah.