Cari Blog Ini

Jumat, 06 Mei 2016

KRITIK ITU SERANGAN

Kelas baru bubar. Sambil memeriksa tugas administrasi dalam presensi saya tak langsung keluar. Tak ada yang perlu dikejar. Tak ada yang menunggu atau pergi meninggalkan kita. Yah, mengatasi impuls yang harus selalu ditekan agar selalu tenang dan damai. Dalam kelas yang telah sepi, tengah hari, Arfageddon masuk dengan sapaan khas dan menanyakan endorsement pesanannya. Bicara tentang pendidikan. Tentang penghargaan terhadap ilmu. Tentang formalitas yang tidak perlu dibesar-besarkan. Tentang seremonial yang menguras waktu dan tidak untuk apa-apa.
Ia juga berbicara tentang karya. Tentang buku yang hanya penting untuk akreditasi, sedang setelahnya ya.... ENTAH. Kekecewaan. Itu yang kutangkap dari pernyataannya. Dikucilkan, dimusuhi,
diremehkan. Aku hanya menjawab dengan jawaban yang mendinginkan sambil menjaga dadaku tetap dingin meski denyut jantung makin kuat menghujat emosi. “Di mana-mana orang baik itu pasti punya musuh. Biasa saja. Tak perlu disikapi dengan emosi. Yang terpenting kita tetap berkarya. Suatu saat, saat karya kita diakui dunia, penghargaan mereka yang dulu melecehkan jadi tak ada harganya.” Begitu kira-kira pernyataan saya, meski saya sendiri tak yakin apakah pernyataan itu benar.
Percakapan santai ini belum cukup lama ketika seorang mahasiswa lain ikut nimbrung. Aktivis. Terlepas dari kekurangan dalam pemahaman, emosi yang meledak-ledak, dan tindakan yang kurang pertimbangan, dia seorang mahasiswa yang potensial. Salahnya dia berada di kawasan “anti-kritik”. Bahwa perbedaan dianggap sebagai ancaman. Hujatan dianggap sebagai serangan. Padahal, dilakukan oleh anak didiknya sendiri.
Mahasiswa ini menambah daftar kekecewaan Arfageddon yang daftarnya tadi sudah cukup panjang. Sebagai yang lebih luas umurnya lebih lebar tempurung otaknya, saya cuma bisa menampung dan mengarahkan. Bahkan terakhir ketika Arfa pamit “geser” lebih dulu, dalam empat mata dia berbicara tentang kekecewaannya. Yah, dia disebut sebagai “virus”. Dengan marah ia hendak memperkarakan pernyataan tersebut di kepolisian. Saya terkejut saat melihat matanya. Ada nyala kemarahan yang berusaha ia tahan. “Ah tak perlu sampai sejauh itu. Lagi, kalau kamu menang, kalau kalah? Kau akan mudah disingkirkan dengan alasan kuat mengganggu ketentraman. Menang pun kau akan dikucilkan.” Saya tidak yakin apakah jawaban ini benar atau tidak.

Dari percakapan tersebut saya semakin yakin bahwa kebenaran memang tidak ada di buku. Kebenaran hanya ada dalam realitas. Dan buku? Hanya menyimpan kebenaran untuk dikoreksi. Kalau buku saya yang statis bisa dikritik, apa lagi manusia yang selalu berubah. Jadi ragu apakah kebenaran itu memang ada di kekuasaan? Saya rasa memang tak mudah untuk menjawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar