Kelas baru bubar. Sambil memeriksa tugas
administrasi dalam presensi saya tak langsung keluar. Tak ada yang perlu
dikejar. Tak ada yang menunggu atau pergi meninggalkan kita. Yah, mengatasi
impuls yang harus selalu ditekan agar selalu tenang dan damai. Dalam kelas yang
telah sepi, tengah hari, Arfageddon masuk dengan sapaan khas dan menanyakan endorsement
pesanannya. Bicara tentang pendidikan. Tentang penghargaan terhadap ilmu.
Tentang formalitas yang tidak perlu dibesar-besarkan. Tentang seremonial yang
menguras waktu dan tidak untuk apa-apa.
Ia juga berbicara tentang karya. Tentang buku
yang hanya penting untuk akreditasi, sedang setelahnya ya.... ENTAH.
Kekecewaan. Itu yang kutangkap dari pernyataannya. Dikucilkan, dimusuhi,
diremehkan. Aku hanya menjawab dengan jawaban yang mendinginkan sambil menjaga
dadaku tetap dingin meski denyut jantung makin kuat menghujat emosi. “Di
mana-mana orang baik itu pasti punya musuh. Biasa saja. Tak perlu disikapi
dengan emosi. Yang terpenting kita tetap berkarya. Suatu saat, saat karya kita diakui dunia, penghargaan
mereka yang dulu melecehkan jadi tak ada harganya.” Begitu kira-kira pernyataan saya, meski saya sendiri
tak yakin apakah pernyataan itu benar.
Percakapan santai ini belum cukup lama ketika
seorang mahasiswa lain ikut nimbrung. Aktivis. Terlepas dari kekurangan dalam
pemahaman, emosi yang meledak-ledak, dan tindakan yang kurang pertimbangan, dia
seorang mahasiswa yang potensial. Salahnya dia berada di kawasan “anti-kritik”.
Bahwa perbedaan dianggap sebagai ancaman. Hujatan dianggap sebagai serangan.
Padahal, dilakukan oleh anak didiknya sendiri.
Mahasiswa ini menambah daftar kekecewaan
Arfageddon yang daftarnya tadi sudah cukup panjang. Sebagai yang lebih luas
umurnya lebih lebar tempurung otaknya, saya cuma bisa menampung dan
mengarahkan. Bahkan terakhir ketika Arfa pamit “geser” lebih dulu, dalam empat
mata dia berbicara tentang kekecewaannya. Yah, dia disebut sebagai “virus”.
Dengan marah ia hendak memperkarakan pernyataan tersebut di kepolisian. Saya
terkejut saat melihat matanya. Ada nyala kemarahan yang berusaha ia tahan. “Ah
tak perlu sampai sejauh itu. Lagi, kalau kamu menang, kalau kalah? Kau akan
mudah disingkirkan dengan alasan kuat mengganggu ketentraman. Menang pun kau
akan dikucilkan.” Saya tidak yakin apakah jawaban ini benar atau tidak.
Dari percakapan tersebut saya semakin yakin
bahwa kebenaran memang tidak ada di buku. Kebenaran hanya ada dalam realitas. Dan
buku? Hanya menyimpan kebenaran untuk dikoreksi. Kalau buku saya yang statis
bisa dikritik, apa lagi manusia yang selalu berubah. Jadi ragu apakah kebenaran
itu memang ada di kekuasaan? Saya rasa memang tak mudah untuk menjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar