Cari Blog Ini

Kamis, 12 Mei 2016

BANGKALAN SEPERTI RIMBA AFRIKA (ADA SINGA, SERIGALA, DAN GAJAH)

Membaca sosial media miliknya Kacong terlihat sangat gembira. Tampak sekali di wajahnya. Bahkan, tanpa sadar terlontar di mulutnya sebuah ungkapan yang penuh gembira.
“Wah, akhirnya Tuhan benar-benar ada.”
Ungkapan yang aneh dan tidak lumrah. Ba Latip yang saat itu sedang memberi makan burung segera menoleh. “Ada apa lagi? Sekarang malah berbau tobatnya orang ateis. Memang dulu kau tak percaya Tuhan?”
“Bukan begitu, Ba. Ini lho baca tautan berita di sosial media. Singa pemangsa kita telah ditangkap KPK. Rasanya dulu tak ada yang berani padanya. Semua kasus hukumnya selalu
selesai dan tak berbekas apa-apa. Ia menjadi sosok yang seolah-olah tak bisa disentuh. Bagi yang tertindas seolah tak ada yang bisa menolong. Semua seperti takut padanya. Hanya keajaiban pertolongan Tuhan yang bisa mengakhiri tekanan terhadap mereka. Dan kedatangan Tuhan itu termanifestasi dengan KPK.” Kacong sungguh bersemangat.
“Itu kan perasaanmu saja.” Aba terdiam sejenak. “Emmmm... Ngomong-ngomong soal singa, jangan lupa filosofinya.”
“Filosofinya singa? Maksudnya, Ba?”
“Singa itu pemberani, kuat, dan selalu beraksi sendiri. Dia tidak suka keroyokan.”
“Lalu?”
“Nah sekarang kan singanya sudah ditangkap. Jangan dipikir sudah aman. Singa tiada serigala bermunculan. Mereka kaum pengecut yang ketika ada yang lebih kuat bersembunyi sambil mencuri-curi kesempatan kelengahan.”
“Jadi?”
“Siap-siaplah dengan datangnya serigala berbulu domba yang pura-pura demi secabik dua cabik bangkai rakyatnya. Mereka berkuasa melalui konspirasi yang halus. Dihias pencitraan.”
“Maksudnya.”
“Kamu dari tadi bilangnya “Jadi?”, “Lalu?”, “Maksudnya?”. Komentar dong. Kok seperti anak TK dengar cerita?”
“Bukan begitu, Ba. Kalau yang filosofi begini Aba jagonya.”
“Kau tahu? Itu gambar-gambar foto di jalan-jalan. Saat bupati lama ada, ada yang berani tidak? Di sosial media juga dibuat kelompok-kelompok yang mengatasnamakan bangkalan. Untuk bangkalan. Demi bangkalan.”
“Apa mereka yang Aba umpamakan serigala itu?
“Sebagian besar.”
“Apa kita cari singa lagi?”
“Sengsara kita. Juga jangan sampai buaya. Lolos dari mulut singa masuk mulut singa yang lain atau malah masuk mulut buaya.”
“Jadi?”
“Carilah gajah, kuat, tidak menindas, ramah, dan tidak merusak kecuali diganggu. Jadi jeli jelilah memilih gajah. Hanya orang buta yang tidak lihat gajah yang sangat besar itu. He he he.....”

“Jadi malu. Kok orang yang berpendidikan seperti saya masih bisa ditipu politisi yang kebanyakan ijazahnya abal-abal.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar