Membaca sosial media miliknya Kacong terlihat
sangat gembira. Tampak sekali di wajahnya. Bahkan, tanpa sadar terlontar di
mulutnya sebuah ungkapan yang penuh gembira.
“Wah, akhirnya Tuhan benar-benar ada.”
Ungkapan yang aneh dan tidak lumrah. Ba Latip yang
saat itu sedang memberi makan burung segera menoleh. “Ada apa lagi? Sekarang malah
berbau tobatnya orang ateis. Memang dulu kau tak percaya Tuhan?”
“Bukan begitu, Ba. Ini lho baca tautan berita
di sosial media. Singa pemangsa kita telah ditangkap KPK. Rasanya dulu tak ada
yang berani padanya. Semua kasus hukumnya selalu
selesai dan tak berbekas apa-apa. Ia menjadi sosok yang seolah-olah tak bisa disentuh. Bagi yang tertindas seolah tak ada yang bisa menolong. Semua seperti takut padanya. Hanya keajaiban pertolongan Tuhan yang bisa mengakhiri tekanan terhadap mereka. Dan kedatangan Tuhan itu termanifestasi dengan KPK.” Kacong sungguh bersemangat.
selesai dan tak berbekas apa-apa. Ia menjadi sosok yang seolah-olah tak bisa disentuh. Bagi yang tertindas seolah tak ada yang bisa menolong. Semua seperti takut padanya. Hanya keajaiban pertolongan Tuhan yang bisa mengakhiri tekanan terhadap mereka. Dan kedatangan Tuhan itu termanifestasi dengan KPK.” Kacong sungguh bersemangat.
“Itu kan perasaanmu saja.” Aba terdiam
sejenak. “Emmmm... Ngomong-ngomong soal singa, jangan lupa filosofinya.”
“Filosofinya singa? Maksudnya, Ba?”
“Singa itu pemberani, kuat, dan selalu beraksi
sendiri. Dia tidak suka keroyokan.”
“Lalu?”
“Nah sekarang kan singanya sudah ditangkap. Jangan
dipikir sudah aman. Singa tiada serigala bermunculan. Mereka kaum pengecut yang
ketika ada yang lebih kuat bersembunyi sambil mencuri-curi kesempatan
kelengahan.”
“Jadi?”
“Siap-siaplah dengan datangnya serigala
berbulu domba yang pura-pura demi secabik dua cabik bangkai rakyatnya. Mereka berkuasa
melalui konspirasi yang halus. Dihias pencitraan.”
“Maksudnya.”
“Kamu dari tadi bilangnya “Jadi?”, “Lalu?”, “Maksudnya?”.
Komentar dong. Kok seperti anak TK dengar cerita?”
“Bukan begitu, Ba. Kalau yang filosofi begini
Aba jagonya.”
“Kau tahu? Itu gambar-gambar foto di jalan-jalan.
Saat bupati lama ada, ada yang berani tidak? Di sosial media juga dibuat
kelompok-kelompok yang mengatasnamakan bangkalan. Untuk bangkalan. Demi bangkalan.”
“Apa mereka yang Aba umpamakan serigala itu?
“Sebagian besar.”
“Apa kita cari singa lagi?”
“Sengsara kita. Juga jangan sampai buaya. Lolos
dari mulut singa masuk mulut singa yang lain atau malah masuk mulut buaya.”
“Jadi?”
“Carilah gajah, kuat, tidak menindas, ramah,
dan tidak merusak kecuali diganggu. Jadi jeli jelilah memilih gajah. Hanya orang
buta yang tidak lihat gajah yang sangat besar itu. He he he.....”
“Jadi malu. Kok orang yang berpendidikan
seperti saya masih bisa ditipu politisi yang kebanyakan ijazahnya abal-abal.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar