Cari Blog Ini

Jumat, 17 Januari 2020

ANTARA BERANI DAN BODOH


Sore itu dari Madura ke Surabaya berdua saya dan istri. Di Jembatan Suramadu seperti biasa 30-35 km/j. Rambu menjelaska 25 kecepatan yg direkomendasi dan 40 kecepatan maksimal. Istri saya sebenarnya pernah complain. Katanya sakit pinggang dan ngantuk jika terlalu lambat. Saat itu sebuah sepeda motor lake’ melaju dengan kecepatan tinggi. Tapi, bukan itu yang istimewa. Sudah biasa sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi di Suramadu. Drivernya. Drivernya cewek. Tak pakai helm. Rambutnya yang panjang tergerai berkibar oleh angin.
Istriku berseru, “Hebat. Berani.” Hanya dua kata. Entah sindiran untuk saya atau jiwa petualangnya sebagai pramuka sedang muncul.
“Perempuan lho, Mas.” Saya sedikit mendongkol. Apa mungkin dia menyindir saya kurang jantan karena tak berani tarik gas.
“Lelaki sih tak aneh ngebut” Jadi kalau gak ngebut aneh? Tiga predikat sudah.
“Tapi dia tak pakai helm.” Mengungkapkan kedongkolan.
“Tak ada polisi.”
“Kau tahu pembatas itu dari apa?” Saya bertanya
“Di bawah beton dan pagarnya besi.”
“Nah, kalau dia jatuh dan kepalanya pecah, apa polisi yang rugi? Tahu gak beda berani dan bodoh itu bedanya tipis?” Dengan penekanan pada pernyataan terakhir. Lega rasanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar