Sore itu dari
Madura ke Surabaya berdua saya dan istri. Di Jembatan Suramadu seperti biasa
30-35 km/j. Rambu menjelaska 25 kecepatan yg direkomendasi dan 40 kecepatan
maksimal. Istri saya sebenarnya pernah complain. Katanya sakit pinggang dan
ngantuk jika terlalu lambat. Saat itu sebuah sepeda motor lake’ melaju
dengan kecepatan tinggi. Tapi, bukan itu yang istimewa. Sudah biasa sepeda
motor melaju dengan kecepatan tinggi di Suramadu. Drivernya. Drivernya cewek.
Tak pakai helm. Rambutnya yang panjang tergerai berkibar oleh angin.
Istriku
berseru, “Hebat. Berani.” Hanya dua kata. Entah sindiran untuk saya atau jiwa
petualangnya sebagai pramuka sedang muncul.
“Perempuan lho,
Mas.” Saya sedikit mendongkol. Apa mungkin dia menyindir saya kurang jantan
karena tak berani tarik gas.
“Lelaki sih tak
aneh ngebut” Jadi kalau gak ngebut aneh? Tiga predikat sudah.
“Tapi dia tak
pakai helm.” Mengungkapkan kedongkolan.
“Tak ada
polisi.”
“Kau tahu
pembatas itu dari apa?” Saya bertanya
“Di bawah beton
dan pagarnya besi.”
“Nah, kalau dia
jatuh dan kepalanya pecah, apa polisi yang rugi? Tahu gak beda berani dan bodoh
itu bedanya tipis?” Dengan penekanan pada pernyataan terakhir. Lega rasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar