Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2016

KAMU BUKAN SASTRAWAN, TAPI POLITISI?

Dalam suasana santai di gardu itu duduk Bung Zaki. Gardu tempat mereka, orang komunitas, berkumpul. Yang lain belum datang. Di tangannya sebuah antologi puisi sastrawan lokal. Dicetak sebagai karya awal. Pengantar harapan dan kebanggaan yang siap diraih. Wajahnya menampakkan rona serius dan fokus. Kadang mengangguk kadang menggeleng. Kadang tersenyum. Tapi lebih banyak mengerutkan dahi. Tak bisa ditafsir apa di kepalanya. Yang terlihat ia hanya membuka-buka lembar-demi lembar. Pada saat tepat datang Sapto mendekat. Penyair muda berbakat. Dengan tekat berusaha cita-cita didapat.
“Lagi asyik, Mas? Serius sekali.” Pembuka bicara yang klasik tapi tetap efektif.
“Ya, bisa dibilang begitu. Buku teman kita. Saya coba mencerna memahami dan menilai.

Jumat, 08 April 2016

PRODUKTIF, MASTERPIECE DAN PASARAN

Mencipta merupakan sifat manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan yang lain. Yah mencipta. Ada yang tinggi karena mencipta yang benar-benar dibutuhkan oleh peradaban seperti teknologi yang membantu paling banyak kemanusiaan seperti bola lampu yang melahirkan dunia elektronik saat ini. Mungkinkah ada televisi ada kalau listrik untuk lampu tidak menyelusup ke area terdalam rumah-rumah? Tentu tidak bukan?
Bagaimana dengan kreasi yang tidak “besar”.
“Produktif sekali kau cipta puisi?” Ba Latip bertanya pada Bang Rosi, seorang penyair muda yang baru-baru ini menerbitkan antologi puisinya.
“Oh, ini bagian dari gejolak muda saya, Ba. Menunjukkan bahwa ada dorongan untuk mencipta.”

Jumat, 18 Maret 2016

SASTRAWAN DAN BUKAN SASTRAWAN


Malam ini malam Minggu. Ba Latip tak punya acara untuk dikerjakan atau dihadiri. Terbersit di kepala untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Ah itu kerja. Kasihan otakku harus bekerja penuh dalam satu pekan. Main. Yah, betul. Tapi,.... ke siapa? Tiba-tiba muncul satu nama Bung Helmi teman kuliah dulu. Seorang sastrawan.
Maka dikeluarkan sepeda motor pusaka terbitan jepang yang setia. Motor pun berderum tanda hendak berangkat. Tidak lupa sebuah tas berisi buku dan gadget yang selalu harus dibawa. Melalui Bong Miring ke utara lalu berbelok di Tunjung terus ke barat menuju kota. Dari Kraton ke selatan sampailah di Taroghan. Segera masuk gang menuju rumah Bung Helmi.
Sampai di sana seperti yang terbayang dalam hatinya, tak akan sepi. Banyak orang-orang seni berkumpul. Yah, orang-orang muda. Dengan pembuka salam masuk dan disambut dengan sebuah buku. Buku antologi puisi seorang seniman. Dari musik. Tapi, buat puisi. Unik kan?
“Bagaimana kabarnya?”
“Baik.”
“Tumben kesini.”