Dalam suasana santai di gardu itu duduk Bung
Zaki. Gardu tempat mereka, orang komunitas, berkumpul. Yang lain belum datang.
Di tangannya sebuah antologi puisi sastrawan lokal. Dicetak sebagai karya awal.
Pengantar harapan dan kebanggaan yang siap diraih. Wajahnya menampakkan rona
serius dan fokus. Kadang mengangguk kadang menggeleng. Kadang tersenyum. Tapi
lebih banyak mengerutkan dahi. Tak bisa ditafsir apa di kepalanya. Yang
terlihat ia hanya membuka-buka lembar-demi lembar. Pada saat tepat datang Sapto
mendekat. Penyair muda berbakat. Dengan tekat berusaha cita-cita didapat.
“Lagi asyik, Mas? Serius sekali.” Pembuka
bicara yang klasik tapi tetap efektif.
“Ya, bisa dibilang begitu. Buku teman kita.
Saya coba mencerna memahami dan menilai.