Mencipta merupakan sifat manusia yang tidak
dimiliki oleh makhluk Tuhan yang lain. Yah mencipta. Ada yang tinggi karena
mencipta yang benar-benar dibutuhkan oleh peradaban seperti teknologi yang
membantu paling banyak kemanusiaan seperti bola lampu yang melahirkan dunia
elektronik saat ini. Mungkinkah ada televisi ada kalau listrik untuk lampu
tidak menyelusup ke area terdalam rumah-rumah? Tentu tidak bukan?
Bagaimana dengan kreasi yang tidak “besar”.
“Produktif sekali kau cipta puisi?” Ba Latip
bertanya pada Bang Rosi, seorang penyair muda yang baru-baru ini menerbitkan antologi puisinya.
“Oh, ini bagian dari gejolak muda saya, Ba.
Menunjukkan bahwa ada dorongan untuk mencipta.”
“Atas nama lisensia poetika itu bisa
dibenarkan. Bukankah penyair berhak menyampaikan ungkapan jiwanya dengan
sebebas-bebasnya?” Begitulah Bang Rosi menyampaikan argumennya.
“Sebagai seorang pengusaha mebel saya juga
berkreasi.” Kata Ba Latip. “Mari ikut saya kebelakang.” Mereka pergi ke sebuah
ruang besar tempat furniture dibuat dari bahan mentah berupa kayu, besi, dsb.
“Kau lihat itu, dan itu?” Ba Latip menunjuk
pada dua kursi. Sang satu sudah dipernis dan yang satu belum. “Kau tahu berapa
lama untuk mengecat kursi itu? Hampir sama waktunya dengan membentuknya menjadi
kursi. Coba kau lihat hasilnya. Jauh lebih bagus yang sudah selesai.” Ba Latip
diam menunggu tanggapan Bang Rosi.
“Eeemmmm. Jadi buat kursi itu mirip buat
puisi. Ada keindahan tidak hanya fungsi dan bentuk. Ada tanggung jawab pada
pengguna. Kepuasan dan manfaat maksimal.”
“Padahal itu sudah mengikuti pakem dalam arti
tidak ada kreasi unik dalam kursi itu. Tapi karena penghalusan dan pemolesan
warna yang baik harganya berubah.Nah, kita bahas harga. Mahal tidaknya sebuah
kursi?”
“Bahan, kehalusan cipta, nilai seni. Kira-kira
itu, Ba.”
“Satu lagi bisa nyaman pada hampir semua orang
sehingga banyak yang cari. Kata lainnya kualitas. Dan itu butuh waktu tidak
sekali jadi. Yang membuat istimewa dan laku dipasar karna bukan pasaran. Unik,
langka, dan mengandung daya guna yang tinggi. Sehingga dengan itu orang
menganggap sebagai adiluhung. Mengandung nilai tinggi peradaban dan
menginspirasi cipta generasi selanjutnya.”
“Jadi, maksud Aba dari pada mencipta banyak
tapi pasaran lebih baik sedikit tapi masterpiece?”
“Nah. Tahu.” Aba diam sejenak. “Tahu Chairil
Anwar?”
“Bukan sastrawan kalau tidak tahu. Posisinya
sebagai pembaharu tidak tergantikan.”
“Puisi yang dicipta tidak lebih dari seratus.
Tapi jadi kiblat sastrawan Indonesia sesudahnya. Dan itu dicipta mulai
1942-1949. Tujuh tahun kira-kira.”
“Itu kan Chairil.”
“Sutardji? Kenal?”
“Pasti. Pembaharu tahun 70-80-an. O, Amuk,
Kapak.”
“Tak sampai seratus. Ditulis tahun 1966-1979.
Tiga belas tahun kira-kira. Menjadi tonggak kemandirian kredo puisi Indonesia
yang “Indonesia”.” Ba Latip menghela nafas. “Sebagai pengusaha yang merangkap
kritikus dadakan, saya tidak bisa banyak komentar. Yang kita bicarakan tadi
adalah sebagian dari cipta manusia untuk manusia. Tak bisa berdiri sendirian.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar