Cari Blog Ini

Jumat, 08 April 2016

PRODUKTIF, MASTERPIECE DAN PASARAN

Mencipta merupakan sifat manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan yang lain. Yah mencipta. Ada yang tinggi karena mencipta yang benar-benar dibutuhkan oleh peradaban seperti teknologi yang membantu paling banyak kemanusiaan seperti bola lampu yang melahirkan dunia elektronik saat ini. Mungkinkah ada televisi ada kalau listrik untuk lampu tidak menyelusup ke area terdalam rumah-rumah? Tentu tidak bukan?
Bagaimana dengan kreasi yang tidak “besar”.
“Produktif sekali kau cipta puisi?” Ba Latip bertanya pada Bang Rosi, seorang penyair muda yang baru-baru ini menerbitkan antologi puisinya.
“Oh, ini bagian dari gejolak muda saya, Ba. Menunjukkan bahwa ada dorongan untuk mencipta.”
Ba Latip terdiam sejenak. Ia membaca beberapa puisi dalam antologi Bang Rosi. Sekilas. Hanya membuka-buka. Kemarin sudah dia baca semua. “Tapi kok sulit dimengerti ya? Bahasanya terlalu pribadi.”
“Atas nama lisensia poetika itu bisa dibenarkan. Bukankah penyair berhak menyampaikan ungkapan jiwanya dengan sebebas-bebasnya?” Begitulah Bang Rosi menyampaikan argumennya.
“Sebagai seorang pengusaha mebel saya juga berkreasi.” Kata Ba Latip. “Mari ikut saya kebelakang.” Mereka pergi ke sebuah ruang besar tempat furniture dibuat dari bahan mentah berupa kayu, besi, dsb.
“Kau lihat itu, dan itu?” Ba Latip menunjuk pada dua kursi. Sang satu sudah dipernis dan yang satu belum. “Kau tahu berapa lama untuk mengecat kursi itu? Hampir sama waktunya dengan membentuknya menjadi kursi. Coba kau lihat hasilnya. Jauh lebih bagus yang sudah selesai.” Ba Latip diam menunggu tanggapan Bang Rosi.
“Eeemmmm. Jadi buat kursi itu mirip buat puisi. Ada keindahan tidak hanya fungsi dan bentuk. Ada tanggung jawab pada pengguna. Kepuasan dan manfaat maksimal.”
“Padahal itu sudah mengikuti pakem dalam arti tidak ada kreasi unik dalam kursi itu. Tapi karena penghalusan dan pemolesan warna yang baik harganya berubah.Nah, kita bahas harga. Mahal tidaknya sebuah kursi?”
“Bahan, kehalusan cipta, nilai seni. Kira-kira itu, Ba.”
“Satu lagi bisa nyaman pada hampir semua orang sehingga banyak yang cari. Kata lainnya kualitas. Dan itu butuh waktu tidak sekali jadi. Yang membuat istimewa dan laku dipasar karna bukan pasaran. Unik, langka, dan mengandung daya guna yang tinggi. Sehingga dengan itu orang menganggap sebagai adiluhung. Mengandung nilai tinggi peradaban dan menginspirasi cipta generasi selanjutnya.”
“Jadi, maksud Aba dari pada mencipta banyak tapi pasaran lebih baik sedikit tapi masterpiece?”
“Nah. Tahu.” Aba diam sejenak. “Tahu Chairil Anwar?”
“Bukan sastrawan kalau tidak tahu. Posisinya sebagai pembaharu tidak tergantikan.”
“Puisi yang dicipta tidak lebih dari seratus. Tapi jadi kiblat sastrawan Indonesia sesudahnya. Dan itu dicipta mulai 1942-1949. Tujuh tahun kira-kira.”
“Itu kan Chairil.”
“Sutardji? Kenal?”
“Pasti. Pembaharu tahun 70-80-an. O, Amuk, Kapak.”

“Tak sampai seratus. Ditulis tahun 1966-1979. Tiga belas tahun kira-kira. Menjadi tonggak kemandirian kredo puisi Indonesia yang “Indonesia”.” Ba Latip menghela nafas. “Sebagai pengusaha yang merangkap kritikus dadakan, saya tidak bisa banyak komentar. Yang kita bicarakan tadi adalah sebagian dari cipta manusia untuk manusia. Tak bisa berdiri sendirian.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar