Pagi yang cerah. Matahari terang sempurna, tak terhalang mendung atau
mega. Di bawah rindang pohon
mahoni sebuah halaman sekolah Jhebbhing duduk seorang diri. Pukul 06.30 di
sekolah belum terlalu banyak yang datang. Iseng menunggu dan suasana mendukung
syahdu membuat novel menjadi alternatif yang tepat menghabiskan waktu. Yah, timbang nganggur.
“Hai, sendirian? Boleh saya duduk bareng?”
sebuah suara menarik wajahnya untuk mendongak. Suara yang sangat dia kenal.
Setyanto atau Anto. Kakak kelas ganteng, keluarga orang berada, dan yang
terpenting cerdas. Pokoknya cool, macho, sempurna. Idaman semua. Orang
yang selama ini dekat, akrab dan familiar menjadi penggalan cukup dominan
dalam
mozaik storage pikirannya. Mewarnai sekaligus membentuk sudut-sudut dan
garis-garis pandangannya tentang hidup.
“Ya. Boleh saja.” Sambil tersenyum.
“Tidak mengganggu kan?”
“Tidak, baca novel kan karena sendirian.
Sekarang sudah ada teman masa baca?” Jhebbhing menjawab dengan wajah cerah.
“Ya siapa tahu saja kamu lebih suka sendiri.”
“Tak ada yang suka sendirian. Manusia, seperti
kamu tahu, kan makhluk sosial. Semua butuh orang lain. Semua butuh teman.”
“Mau dong saya temani?” dengan bergurau,
menutupi maksud sebenarnya.
“Ya iya. Kok masih tanya. Ini kan sudah
menemaniku.”
“Maksudku mau menjadi teman hidupmu.” Anto
lebih serius. Lebih lagi.
“Pandai juga buat gombalan. Hi hi...”
“Tidak, ini serius.” Anto membantah. “Saya
sangat menyukaimu. Saya akan selalu.” dengan wajah lebih serius lagi.
“Hi hi... apa pun katamu, serius atau tidak,
tetap gombal.” Kata Jhebbhing lebih menegaskan tapi dengan senyum mengembang dan wajah merona merah. Ada yang panas dan mendorong jantung lebih cepat berdetak, berdenyut, dan memompa darah lebih cepat.
“Kamu tidak percaya bahwa aku setia? Pernahkah
kamu lihat aku mempermainkan perasaan orang lain? Aku lelaki setia dan akan
selalu.”
“Itulah yang kusebut gombal. Kamu yakin
dengan masa depan? Apa jaminanmu sedang alam ini berubah. Berubah itu niscaya. Bagaimana
kamu bisa meyakini sesuatu yang jauh ke depan sedangkan kamu tidak sanggup
memastikan satu jam ke depan. Bagaimana sanggup menanggung janji kalau kamu
tidak kuasa melawan takdir yang menimpamu. Sudahlah. Aku menyukaimu. Tapi orang
tuaku menyuruhku sekolah. Setidaknya sampai usia layak untuk menikah. Apa kamu
sanggup memastikan kamu tidak berubah sedang kamu tidak tahu yang akan datang?
Urusan takdir sudah ada yang ngatur.” Tapi itu hanya pikiran Jhebbhing.
Begitulah akal sehatnya berbicara. Hanya dalam batin. Tapi, “Aku juga
menyukaimu. Dan aku bahagia.” adalah kata yang keluar dari mulutnya. Mesra. Biarlah takdir berkata nanti. Sekarang dialah yang bicara.
Ternyata rasa suka memang sangat kuat, lebih kuat dari akal
sehat. Waspadalah. Waspadalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar