“Wah
geregetan. Coba dekat sudah aku pites-pites. Jengkel. Mana yang setetanggaan
pada sibuk dengan bertengkar di dalam?” Kacong menggerutu sambil mengutak-atik gadjet-nya. Ada
marah dan jengkel pada roman mukanya.
Seperti biasa
Ba Latip yang sedang sibuk dengan burungnya hanya geleng-geleng kepala. “Ada
apa, Cong. Pagi-pagi kok sudah bad mood. Something wrong, yâh?”
“Ini Ba,
baca berita Palestina dan Israel. Selalu saja ada korban sipil. Mana Amerika
yang katanya polisi dunia. Kok ada pembiaran seperti ini? Kalau ada konflik di
negara ‘Islam’ mereka menari-nari dengan unjuk senjata canggih. Buruknya,
negara-negara Islam yang seharusnya menjadi tumpuan harapan tidak bisa apa-apa.”
“Termasuk
kamu kan yang tidak bisa berbuat apa-apa?” kata Aba sambil tersenyum geli.
“Siapa
bilang, Ba. Saya sudah berbuat banyak mulai dari boikot produk orang-orang
yahudi sampai menghapus yang berbau yahudi.”
“Wah kuno
kamu.”
“Iya,
kuno. Mon kataku kuno, ya kuno. Gak usah bantah.” Kata aba serius dan
tegas.
“Lho, kok
Aba jadi otoriter?” kata Kacong dengan wajah penuh tanda tanya.
“Kamu
pasti kuno kalau tidak pakai penemuan orang Yahudi. Itu Smartphonemu ada facebook?”
“Iya.”
“Zuck,
pendiri Facebook itu kau kira bukan Yahudi?”
“Kamu
pemakai lampu listrik?”
“Iya, Ba.
Aba kan tahu, kok masih nanya?”
“Thomas
Alfa Edison penemu bola lampu itu bukan Yahudi? Bill Gates yang microsoft Windows
dan Officenya kamu pakai itu bukan Yahudi? Sergey Brin yang mesin pencari Googlenya
kamu pakai itu kau kira bukan Yahudi? Buaaaanyak sekali penemuan-penemuan besar
yang disumbangkan orang-orang Yahudi bagi manusia. Jika anti dengan caramu itu,
ya kembali primitif. Sedangkan kamu hanya bisa memboikot. Bagaimana Aba tidak
jengkel, sekolah saja gak pinter-pinter. Gunakan daya hidupmu seperti kata W.S.
Rendra. Jangan daya mati.”
“Iya ya, Ba?
Kalau mau mengalahkan mereka lampaui mereka, bukan begitu Ba?”
“Nah kamu
ngerti. Indonesia ini tidak akan merdeka kalau Yai Hasyim dulu tidak mengirim
santrinya untuk belajar militer pada jepang. Mana mungkin orang kampung menang lawan
tentara terlatih?”
Ba Latip
mulai menampakkan wajah tenangnya. “Dan, Cong. Kamu tahu kopi di dapur
itu?”
“Iya, Ba.
Itu penemuan Yahudi juga ya, Ba?”
Dengan geregetan
Aba menukas. “Bukaaaan. Itu kopi sudah hampir habis. Belikan Aba kopi di pasar.
Uangnya minta sama Umimu.”
Kacong
pun berlalu sambil garuk-garuk kepala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar