Cari Blog Ini

Jumat, 25 Maret 2016

ANTI YAHUDI

“Wah geregetan. Coba dekat sudah aku pites-pites. Jengkel. Mana yang setetanggaan pada sibuk dengan bertengkar di dalam?” Kacong menggerutu sambil mengutak-atik gadjet-nya. Ada marah dan jengkel pada roman mukanya.
Seperti biasa Ba Latip yang sedang sibuk dengan burungnya hanya geleng-geleng kepala. “Ada apa, Cong. Pagi-pagi kok sudah bad mood. Something wrong, yâh?”
“Ini Ba, baca berita Palestina dan Israel. Selalu saja ada korban sipil. Mana Amerika yang katanya polisi dunia. Kok ada pembiaran seperti ini? Kalau ada konflik di negara ‘Islam’ mereka menari-nari dengan unjuk senjata canggih. Buruknya, negara-negara Islam yang seharusnya menjadi tumpuan harapan tidak bisa apa-apa.”
“Termasuk kamu kan yang tidak bisa berbuat apa-apa?” kata Aba sambil tersenyum geli.
“Siapa bilang, Ba. Saya sudah berbuat banyak mulai dari boikot produk orang-orang yahudi sampai menghapus yang berbau yahudi.”
“Wah kuno kamu.”

“Kok, Kuno bah?”
“Iya, kuno. Mon kataku kuno, ya kuno. Gak usah bantah.” Kata aba serius dan tegas.
“Lho, kok Aba jadi otoriter?” kata Kacong dengan wajah penuh tanda tanya.
“Kamu pasti kuno kalau tidak pakai penemuan orang Yahudi. Itu Smartphonemu ada facebook?”
“Iya.”
“Zuck, pendiri Facebook itu kau kira bukan Yahudi?”
“Kamu pemakai lampu listrik?”
“Iya, Ba. Aba kan tahu, kok masih nanya?”
“Thomas Alfa Edison penemu bola lampu itu bukan Yahudi? Bill Gates yang microsoft Windows dan Officenya kamu pakai itu bukan Yahudi? Sergey Brin yang mesin pencari Googlenya kamu pakai itu kau kira bukan Yahudi? Buaaaanyak sekali penemuan-penemuan besar yang disumbangkan orang-orang Yahudi bagi manusia. Jika anti dengan caramu itu, ya kembali primitif. Sedangkan kamu hanya bisa memboikot. Bagaimana Aba tidak jengkel, sekolah saja gak pinter-pinter. Gunakan daya hidupmu seperti kata W.S. Rendra. Jangan daya mati.”
“Iya ya, Ba? Kalau mau mengalahkan mereka lampaui mereka, bukan begitu Ba?”
“Nah kamu ngerti. Indonesia ini tidak akan merdeka kalau Yai Hasyim dulu tidak mengirim santrinya untuk belajar militer pada jepang. Mana mungkin orang kampung menang lawan tentara terlatih?”
Ba Latip mulai menampakkan wajah tenangnya. “Dan, Cong. Kamu tahu kopi di dapur itu?”
“Iya, Ba. Itu penemuan Yahudi juga ya, Ba?”
Dengan geregetan Aba menukas. “Bukaaaan. Itu kopi sudah hampir habis. Belikan Aba kopi di pasar. Uangnya minta sama Umimu.”

Kacong pun berlalu sambil garuk-garuk kepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar