“Wah, ini baru seru.”
“Apanya yang seru, Cong?” kata Ba Latip.
“Ini, Ba. Kiyai se-Bangkalan bertemu untuk
membentuk aliansi menangkal madzhab sesat.” Kata kacong dengan penuh semangat.
“Lo, ada orang bikin aliansi kok seru? Serunya
di mana cong?”
“Ya, kan ada dua kubu, nah kubu tradisional
rupanya merasa terancam. Makanya merapatkan barisan.”
Setelah menyeruput kopi hitam. “Lalu hasilnya
apa cong.”
“Kan sudah jelas tadi Ba? Ya merapatkan barisan.”
“Maksudnya merapatkan barisan itu hasilnya
apa?”
“Aliansi, Ba? Pertanyaan Aba ini kok aneh? Gak
mutu.”
“Eeee... Jangan salah. Aliansi itu hasilnya
apa?”
“Deklarasi.”
“Lalu.”
“Terbentuklah organisasi baru tempat berkumpul.”
“Nah, yang lama, Cong? Yang pusatnya di Jakarta? Bukankah mereka yang ikut aliansi itu anggota organisasi di Jakarta itu?”
“Lo kok, Aba tahu?”
“Eeee... Jangan salah. Bertanya bukan berarti
tidak tahu?”
“Maksudnya Ba?”
“Kalau di Jakarta itu tersistem dari atas ke
bawah, tentu aturannya kan lebih jelas. Tak ada yang rancu. Tupoksinya jelas. Tak
ada yang ragu. Lalu kalau itu sudah ada, lha buat apa buat yang baru.”
“Mungkin supaya gaungnya lebih besar.”
“Untuk?”
“Syiar”
“Tentang?”
“Agama.”
“Bukan saling menyalahkan antar aliran?”
“Tapi kalau tidak ditangkal bisa gawat.”
“Apanya yang gawat. Dari dulu perbedaan sudah
ada. Dan yang berbeda itu harus berebut suara dan pengaruh. Kira-kira kalau
yang organisasi di Jakarta sana berpengaruh dan jelas kinerjanya, umat merasa
diuntungkan, apa mungkin mereka berpaling?”
“Ia juga ya Ba?”
“Naah, mulai paham kan? Sekarang setelah
dibentuk itu, apa kerjanya. Ke dalam apa ke luar? Bikin apa? Kurikulum
pendidikan yang sistematis dan teruji melalui penelitian? Bikin majlis taklim?
Bikin sekolah yang meningkatkan kualitas hidup umat? Selain paham agama juga
punya keterampilan yang ‘aptudet’ alias tidak konsep taon bidâhâb
tentang teknologi? Kamu lihat hasil tindak lanjutnya?”
“Tidak, Ba.”
“Nah... Pertanyaan besarnya. Siapa yang getol
menggagas ini? Apa posisinya? Nah baru kamu tahu ada apa sebenarnya.”
“Wah berita itu bertajam dua.”
“Makanya, baca berita. Jangan terbaca
berita. Alias menjadi sasaran isu yang dihembus dari yang di sana.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar