Cari Blog Ini

Jumat, 11 Maret 2016

ALIRAN SESAT

“Wah, ini baru seru.”
“Apanya yang seru, Cong?” kata Ba Latip.
“Ini, Ba. Kiyai se-Bangkalan bertemu untuk membentuk aliansi menangkal madzhab sesat.” Kata kacong dengan penuh semangat.
“Lo, ada orang bikin aliansi kok seru? Serunya di mana cong?”
“Ya, kan ada dua kubu, nah kubu tradisional rupanya merasa terancam. Makanya merapatkan barisan.”
Setelah menyeruput kopi hitam. “Lalu hasilnya apa cong.”
“Kan sudah jelas tadi Ba? Ya merapatkan barisan.”
“Maksudnya merapatkan barisan itu hasilnya apa?”
“Aliansi, Ba? Pertanyaan Aba ini kok aneh? Gak mutu.”
“Eeee... Jangan salah. Aliansi itu hasilnya apa?”
“Deklarasi.”
“Lalu.”
“Terbentuklah organisasi baru tempat berkumpul.”

“Nah, yang lama, Cong? Yang pusatnya di Jakarta? Bukankah mereka yang ikut aliansi itu anggota organisasi di Jakarta itu?”
“Lo kok, Aba tahu?”
“Eeee... Jangan salah. Bertanya bukan berarti tidak tahu?”
“Maksudnya Ba?”
“Kalau di Jakarta itu tersistem dari atas ke bawah, tentu aturannya kan lebih jelas. Tak ada yang rancu. Tupoksinya jelas. Tak ada yang ragu. Lalu kalau itu sudah ada, lha buat apa buat yang baru.”
“Mungkin supaya gaungnya lebih besar.”
“Untuk?”
“Syiar”
“Tentang?”
“Agama.”
“Bukan saling menyalahkan antar aliran?”
“Tapi kalau tidak ditangkal bisa gawat.”
“Apanya yang gawat. Dari dulu perbedaan sudah ada. Dan yang berbeda itu harus berebut suara dan pengaruh. Kira-kira kalau yang organisasi di Jakarta sana berpengaruh dan jelas kinerjanya, umat merasa diuntungkan, apa mungkin mereka berpaling?”
“Ia juga ya Ba?”
“Naah, mulai paham kan? Sekarang setelah dibentuk itu, apa kerjanya. Ke dalam apa ke luar? Bikin apa? Kurikulum pendidikan yang sistematis dan teruji melalui penelitian? Bikin majlis taklim? Bikin sekolah yang meningkatkan kualitas hidup umat? Selain paham agama juga punya keterampilan yang ‘aptudet’ alias tidak konsep taon bidâhâb tentang teknologi? Kamu lihat hasil tindak lanjutnya?”
“Tidak, Ba.”
“Nah... Pertanyaan besarnya. Siapa yang getol menggagas ini? Apa posisinya? Nah baru kamu tahu ada apa sebenarnya.”
“Wah berita itu bertajam dua.”
“Makanya, baca berita. Jangan terbaca berita. Alias menjadi sasaran isu yang dihembus dari yang di sana.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar