Cari Blog Ini

Jumat, 18 Maret 2016

SASTRAWAN DAN BUKAN SASTRAWAN


Malam ini malam Minggu. Ba Latip tak punya acara untuk dikerjakan atau dihadiri. Terbersit di kepala untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Ah itu kerja. Kasihan otakku harus bekerja penuh dalam satu pekan. Main. Yah, betul. Tapi,.... ke siapa? Tiba-tiba muncul satu nama Bung Helmi teman kuliah dulu. Seorang sastrawan.
Maka dikeluarkan sepeda motor pusaka terbitan jepang yang setia. Motor pun berderum tanda hendak berangkat. Tidak lupa sebuah tas berisi buku dan gadget yang selalu harus dibawa. Melalui Bong Miring ke utara lalu berbelok di Tunjung terus ke barat menuju kota. Dari Kraton ke selatan sampailah di Taroghan. Segera masuk gang menuju rumah Bung Helmi.
Sampai di sana seperti yang terbayang dalam hatinya, tak akan sepi. Banyak orang-orang seni berkumpul. Yah, orang-orang muda. Dengan pembuka salam masuk dan disambut dengan sebuah buku. Buku antologi puisi seorang seniman. Dari musik. Tapi, buat puisi. Unik kan?
“Bagaimana kabarnya?”
“Baik.”
“Tumben kesini.”

“Gak ada kerjaan. Hitung-hitung cari suasana baru. Suasana perkumpulan sastrawan.”
Dia berusaha berbicara dengan datar tentang karya. Tentang DKJT yang miring dan condong. Tentang pertemuan di pendopo Wakil Bupati Bangkalan. Ia tidak diundang katanya. Mungkin dilupakan atau mungkin dianggap musuh. Itu kesimpulan Ba Latip dari ucapan dan ekspresi kekecewaannya.
“Dunia memang tidak adil. Mereka hanya membaca nama. Tak penting lagi kualitas seni.”
“Itulah. Pantas di negara ini tak ada penyair yang benar-benar besar sejak angkatan 80-an. Nilai nurani sudah benar-benar tidak lagi dianggap.” Ba Latip hanya menguatkan sebagai empati. “Seolah-olah hanya mereka yang sastrawan. Dan kita ini hanya pengekor tak perlu dianggap. Padahal, semua penulis sastra tentu sastrawan. Besar kecilnya hanya soal keberuntungan.”
Obrolan mereka terus berlanjut mulai dari kondisi terkini, kenangan masa lalu, atau rencana masa depan. Sampai jam tak terasa telah mencapai 22.00.
“Wah, rupanya waktu telah malam. Secinta apapun kita pada sastra kita masih tetap butuh tidur dan terutama makan. Kita jumpa lagi malam Minggu berikutnya. Kalau ada kesempatan.” Dan sampai sekarang kesempatan itu belum ada, bukan?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar