Malam
ini malam Minggu. Ba Latip tak punya acara untuk dikerjakan atau dihadiri.
Terbersit di kepala untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Ah itu kerja.
Kasihan otakku harus bekerja penuh dalam satu pekan. Main. Yah, betul.
Tapi,.... ke siapa? Tiba-tiba muncul satu nama Bung Helmi teman kuliah dulu.
Seorang sastrawan.
Maka
dikeluarkan sepeda motor pusaka terbitan jepang yang setia. Motor pun berderum
tanda hendak berangkat. Tidak lupa sebuah tas berisi buku dan gadget
yang selalu harus dibawa. Melalui Bong Miring ke utara lalu berbelok di
Tunjung terus ke barat menuju kota. Dari Kraton ke selatan sampailah di
Taroghan. Segera masuk gang menuju rumah Bung Helmi.
Sampai
di sana seperti yang terbayang dalam hatinya, tak akan sepi. Banyak orang-orang
seni berkumpul. Yah, orang-orang muda. Dengan pembuka salam masuk dan
disambut dengan sebuah buku. Buku antologi puisi seorang seniman. Dari musik.
Tapi, buat puisi. Unik kan?
“Bagaimana
kabarnya?”
“Baik.”
“Tumben
kesini.”
Dia
berusaha berbicara dengan datar tentang karya. Tentang DKJT yang miring dan
condong. Tentang pertemuan di pendopo Wakil Bupati Bangkalan. Ia tidak diundang
katanya. Mungkin dilupakan atau mungkin dianggap musuh. Itu kesimpulan Ba Latip
dari ucapan dan ekspresi kekecewaannya.
“Dunia
memang tidak adil. Mereka hanya membaca nama. Tak penting lagi kualitas seni.”
“Itulah.
Pantas di negara ini tak ada penyair yang benar-benar besar sejak angkatan
80-an. Nilai nurani sudah benar-benar tidak lagi dianggap.” Ba Latip hanya
menguatkan sebagai empati. “Seolah-olah hanya mereka yang sastrawan. Dan kita
ini hanya pengekor tak perlu dianggap. Padahal, semua penulis sastra tentu
sastrawan. Besar kecilnya hanya soal keberuntungan.”
Obrolan
mereka terus berlanjut mulai dari kondisi terkini, kenangan masa lalu, atau
rencana masa depan. Sampai jam tak terasa telah mencapai 22.00.
“Wah,
rupanya waktu telah malam. Secinta apapun kita pada sastra kita masih tetap
butuh tidur dan terutama makan. Kita jumpa lagi malam Minggu berikutnya. Kalau
ada kesempatan.” Dan sampai sekarang kesempatan itu belum ada, bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar