Dalam suasana santai di gardu itu duduk Bung
Zaki. Gardu tempat mereka, orang komunitas, berkumpul. Yang lain belum datang.
Di tangannya sebuah antologi puisi sastrawan lokal. Dicetak sebagai karya awal.
Pengantar harapan dan kebanggaan yang siap diraih. Wajahnya menampakkan rona
serius dan fokus. Kadang mengangguk kadang menggeleng. Kadang tersenyum. Tapi
lebih banyak mengerutkan dahi. Tak bisa ditafsir apa di kepalanya. Yang
terlihat ia hanya membuka-buka lembar-demi lembar. Pada saat tepat datang Sapto
mendekat. Penyair muda berbakat. Dengan tekat berusaha cita-cita didapat.
“Lagi asyik, Mas? Serius sekali.” Pembuka
bicara yang klasik tapi tetap efektif.
“Ya, bisa dibilang begitu. Buku teman kita.
Saya coba mencerna memahami dan menilai.
Untuk kita diskusikan. Penyair seperti
kita, mana ada yang mau baca kalau bukan kita sendiri. Beda dengan yang kelas
Nasional. He heh. Padahal bukan sekolah tapi ada kelasnya juga.”
“Mas Zaki bisa saja. Kapan tulisan kita bisa
terkenal ya? Dapat penghargaan, juara lomba. Bânnè pertama gak pa-pa.
Sepuluh besar juga gak masalah.”
“Ya, entah. Tapi, ngomong-ngomong kalau begitu
sastrawan itu mirip politisi yah?”
“Mulai deh aneh-anehnya.” Sapto tersenyum
lebar.
“Iya, cara berpikir tadi itu mirip cara
berpikir politisi.”
“Gini, To. Kita ini apa?”
“Seniman. Mas juga tahu.”
“Tugas seniman itu apa?”
“Buat karya seni.”
“Kalau petani mangga?”
“Nah ini, anehnya muncul lagi. Ya nanam
mangga.”
“Mangga yang bagaimana yang diinginkan
petani?”
“Yang besar dan tentu yang manis. Kok malah
pindah ke urusan mangga?”
“Ya, mangga kan lebih konkret. Nah, kalau
tukang mangga mengharap harga tinggi tapi mangganya kecil dan kecut masuk akal
tidak?”
“Ya tidak.”
“Nah kita yang menyebut diri sebagai seniman
sastra tujuan kita kan mencipta. Itu tugas kita. Nah kalau kita ingin dapat
apresiasi yang baik ya buat karya yang baik. Kamu tahu ciri-ciri karya yang
baik?”
“Indah atau menyenangkan dan bermanfaat. Dulce
et utile kata orang bule.”
“Nah tahu. Estetika dan kemanfaatan. Itu
intinya. Terkenal itu imbas. Penghargaan itu imbas. Bukan tujuan.”
“Hubungannya dengan politisi apa, Mas? Tadi
bilang kita ini seperti politisi, tapi malah bahas mangga dan petaninya.”
“Politisi itu yang berisi kan ghun cuma
kampanyenya. Kerjanya tidak berisi. Yang penting terpilih dan jadi DPR.
Segalanya ditempuh, pake ide orang lain atau konsultan, buat merek baru, yang
kita kenal pencitraan. Semua pakai dana. Dan kalau terpilih, yang muncul wujud
aslinya.”
“Hubungannya dengan sastrawan?”
“Kita ini terkadang meniru politisi. Menulis
yang bukan dalam hati, bombastis, mentereng, padahal diperoleh dari pemahaman
dangkal dari orang lain.”
“Maksudnya?”
“Menulis itu ada konvensinya. Ada pakem yang
berubah dan berkembang. Dan itu adalah referensi untuk karya. Jangan anti
konvensi. Sebab, jangan-jangan yang kita anggap baru ternyata sudah ditulis
orang jauh sebelumnya. Cuma kita tak tahu saja. Itulah dulce.”
“Dan utile-nya adalah isi dari karya.
Itu perlu pemahaman tentang hidup. Sebab menjadi refleksi untuk orang lain. Dan
kalau gagal utilenya tak bakal ada yang suka buku kita.”
Sapto manggut-manggut. “Politisi?”
“Dengan pengetahuan terbatas dan bersolek
mereka mengingkari fungsi. Hasilnya negara yang hancur karena konstitusi dibuat
tanpa pemahaman. Begitulah juga jika seniman yang bekerja dengan nurani
kemudian menulis tanpa nurani. Maka lebih buruk dari politisi seniman telah
menjadi zombie. Wadag tanpa jiwa. Dan karyanya?”
“Tapi kan gak ngefek. Tetap terkenal.”
“Sampai berapa kali gagal tetap bertahan?
Petani buah yang panen buruk tiga kali saja akan merantau kalau jiwanya bukan
petani. Politisi yang bukan negarawan akan cari kerja lain jika tidak terpilih.
Dan sastrawan yang buat karya dan gagal terus akan mencari kerja kalau itu
bukan panggilan jiwanya. Kau lihat tu si Rosi mana puisinya sekarang? Bosan
mungkin dia.”
“Saran Mas Zaki?”
“Mending jualan atau cari kerja kalau itu
bukan panggilan jiwa. Sebab sastra memang bukan tempat mencari uang apa lagi
popularitas sebab sastrawan tak akan setenar Iwan Fals dan Sahrul Gunawan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar