Cari Blog Ini

Jumat, 15 April 2016

KAMU BUKAN SASTRAWAN, TAPI POLITISI?

Dalam suasana santai di gardu itu duduk Bung Zaki. Gardu tempat mereka, orang komunitas, berkumpul. Yang lain belum datang. Di tangannya sebuah antologi puisi sastrawan lokal. Dicetak sebagai karya awal. Pengantar harapan dan kebanggaan yang siap diraih. Wajahnya menampakkan rona serius dan fokus. Kadang mengangguk kadang menggeleng. Kadang tersenyum. Tapi lebih banyak mengerutkan dahi. Tak bisa ditafsir apa di kepalanya. Yang terlihat ia hanya membuka-buka lembar-demi lembar. Pada saat tepat datang Sapto mendekat. Penyair muda berbakat. Dengan tekat berusaha cita-cita didapat.
“Lagi asyik, Mas? Serius sekali.” Pembuka bicara yang klasik tapi tetap efektif.
“Ya, bisa dibilang begitu. Buku teman kita. Saya coba mencerna memahami dan menilai.
Untuk kita diskusikan. Penyair seperti kita, mana ada yang mau baca kalau bukan kita sendiri. Beda dengan yang kelas Nasional. He heh. Padahal bukan sekolah tapi ada kelasnya juga.”
“Mas Zaki bisa saja. Kapan tulisan kita bisa terkenal ya? Dapat penghargaan, juara lomba. Bânnè pertama gak pa-pa. Sepuluh besar juga gak masalah.”
“Ya, entah. Tapi, ngomong-ngomong kalau begitu sastrawan itu mirip politisi yah?”
“Mulai deh aneh-anehnya.” Sapto tersenyum lebar.
“Iya, cara berpikir tadi itu mirip cara berpikir politisi.”
“Gini, To. Kita ini apa?”
“Seniman. Mas juga tahu.”
“Tugas seniman itu apa?”
“Buat karya seni.”
“Kalau petani mangga?”
“Nah ini, anehnya muncul lagi. Ya nanam mangga.”
“Mangga yang bagaimana yang diinginkan petani?”
“Yang besar dan tentu yang manis. Kok malah pindah ke urusan mangga?”
“Ya, mangga kan lebih konkret. Nah, kalau tukang mangga mengharap harga tinggi tapi mangganya kecil dan kecut masuk akal tidak?”
“Ya tidak.”
“Nah kita yang menyebut diri sebagai seniman sastra tujuan kita kan mencipta. Itu tugas kita. Nah kalau kita ingin dapat apresiasi yang baik ya buat karya yang baik. Kamu tahu ciri-ciri karya yang baik?”
“Indah atau menyenangkan dan bermanfaat. Dulce et utile kata orang bule.”
“Nah tahu. Estetika dan kemanfaatan. Itu intinya. Terkenal itu imbas. Penghargaan itu imbas. Bukan tujuan.”
“Hubungannya dengan politisi apa, Mas? Tadi bilang kita ini seperti politisi, tapi malah bahas mangga dan petaninya.”
“Politisi itu yang berisi kan ghun cuma kampanyenya. Kerjanya tidak berisi. Yang penting terpilih dan jadi DPR. Segalanya ditempuh, pake ide orang lain atau konsultan, buat merek baru, yang kita kenal pencitraan. Semua pakai dana. Dan kalau terpilih, yang muncul wujud aslinya.”
“Hubungannya dengan sastrawan?”
“Kita ini terkadang meniru politisi. Menulis yang bukan dalam hati, bombastis, mentereng, padahal diperoleh dari pemahaman dangkal dari orang lain.”
“Maksudnya?”
“Menulis itu ada konvensinya. Ada pakem yang berubah dan berkembang. Dan itu adalah referensi untuk karya. Jangan anti konvensi. Sebab, jangan-jangan yang kita anggap baru ternyata sudah ditulis orang jauh sebelumnya. Cuma kita tak tahu saja. Itulah dulce.”
“Dan utile-nya adalah isi dari karya. Itu perlu pemahaman tentang hidup. Sebab menjadi refleksi untuk orang lain. Dan kalau gagal utilenya tak bakal ada yang suka buku kita.”
Sapto manggut-manggut. “Politisi?”
“Dengan pengetahuan terbatas dan bersolek mereka mengingkari fungsi. Hasilnya negara yang hancur karena konstitusi dibuat tanpa pemahaman. Begitulah juga jika seniman yang bekerja dengan nurani kemudian menulis tanpa nurani. Maka lebih buruk dari politisi seniman telah menjadi zombie. Wadag tanpa jiwa. Dan karyanya?”
“Tapi kan gak ngefek. Tetap terkenal.”
“Sampai berapa kali gagal tetap bertahan? Petani buah yang panen buruk tiga kali saja akan merantau kalau jiwanya bukan petani. Politisi yang bukan negarawan akan cari kerja lain jika tidak terpilih. Dan sastrawan yang buat karya dan gagal terus akan mencari kerja kalau itu bukan panggilan jiwanya. Kau lihat tu si Rosi mana puisinya sekarang? Bosan mungkin dia.”
“Saran Mas Zaki?”

“Mending jualan atau cari kerja kalau itu bukan panggilan jiwa. Sebab sastra memang bukan tempat mencari uang apa lagi popularitas sebab sastrawan tak akan setenar Iwan Fals dan Sahrul Gunawan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar