Dalam keadaan kurang sehat ia menemuiku
memaksa diri untuk duduk meski dalam keadaan lemah. Ia berkata, “Mereka sering
menyarankan padaku jangan menyerah pada sakit.” Hening sebentar. “Mereka pikir
manusia itu sama. Ada orang yang kalau sakit dibawa kerja bisa sembuh. Ada yang
tak menghirau kan sakitnya. Itu pernah ku lakukan. Dan kau tahu? Bukannya
sembuh malah sakit semingguku kambuh. Sembilan hari. Kata orang Madura kapolèan.
Kau boleh tak percaya.”
“Gak ke dokter, Ba?”
“Aku kurang percaya pada dokter. Mereka itu
bajunya saja yang putih. Kita tahu sendiri praktiknya. Di rumah sakit tempat
ibadah mereka itu, berapa banyak pasien ditelantarkan
dengan alasan tidak punya biaya. Alasan halusnya tidak menyelesaikan administrasi. Kasarnya kere, gak bisa bayar. Iya to? Lagian mati itu di tangan Tuhan. Berapa banyak yang ke dokter gak sembuh. Dibawa ke kiyai, eeeee jadi panjang umur. Dokter sekarang itu tidak ada bedanya dengan pedagang. Jual jasa dan obat. Diagnosanya cenderung serampangan, ceroboh dan kurang hati-hati. Jangan heran beda dokter beda diagnosa. Lalu kalau tebak-tebakan gitu, lha waktu sekolah dokter dia belajar apa ya?” katanya sambil tersenyum.
dengan alasan tidak punya biaya. Alasan halusnya tidak menyelesaikan administrasi. Kasarnya kere, gak bisa bayar. Iya to? Lagian mati itu di tangan Tuhan. Berapa banyak yang ke dokter gak sembuh. Dibawa ke kiyai, eeeee jadi panjang umur. Dokter sekarang itu tidak ada bedanya dengan pedagang. Jual jasa dan obat. Diagnosanya cenderung serampangan, ceroboh dan kurang hati-hati. Jangan heran beda dokter beda diagnosa. Lalu kalau tebak-tebakan gitu, lha waktu sekolah dokter dia belajar apa ya?” katanya sambil tersenyum.
“Hidup ini bukan hanya logika, banyak yang
supralogis yang terbukti. Soal ilmiah dan tidak itu gak penting. Toh ilmu itu
juga tidak bisa menjelaskan semua fenomena. Terbatas indera dan logika manusia
yang memang terbatas.”
“Jadi menurut aba ilmu itu tidak penting?”
kataku penasaran.
“Bukan tidak penting. Tepatnya bukan
satu-satunya. Kebenaran tidak hanya ilmu. Ada kebenaran spiritual yang tidak
logis tapi nyatanya berpengaruh. Bagaimana kaum Kuraish kalah dengan kaum
muslim padahal mereka tidak lebih kumpulan pengungsi. Dan dari jumlah jauh dari
kaum kuraisy kadang-kadang 1:10.”
“Dulu, belum lama rasanya yang menentukan itu
kognisi. Sampai ditemukan metode quantum. Tapi metode itu sebenarnya sudah lama
terbukti, jauh sebelum dicetuskan. Berapa banyak profesor yang pandai keilmuan
ekonominya tak bisa mengurus perusahaan kecil. Dan berapa banyak pengusaha
besar yang tidak memiliki pendidikan dibidangnya. Ciputra itu bidang
peternakan. Apa hubungannya dengan usahanya yang saat ini. Bob Sadino? Taufiq
Ismail kedokteran hewan jadi sastrawan.”
“Yang jelas dalam sakitku, ada banyak yang
ternyata kulupakan. Rehat, menakar kembali yang terlewat. Menjadi manusia penuh
tanpa elektronika dan dunia digital. Saat itu pula semua pencapaian selama ini
perlu ditanya kembali. Untuk apa kalau sudah mati?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar