Cari Blog Ini

Jumat, 29 April 2016

DALAM SAKIT

Dalam keadaan kurang sehat ia menemuiku memaksa diri untuk duduk meski dalam keadaan lemah. Ia berkata, “Mereka sering menyarankan padaku jangan menyerah pada sakit.” Hening sebentar. “Mereka pikir manusia itu sama. Ada orang yang kalau sakit dibawa kerja bisa sembuh. Ada yang tak menghirau kan sakitnya. Itu pernah ku lakukan. Dan kau tahu? Bukannya sembuh malah sakit semingguku kambuh. Sembilan hari. Kata orang Madura kapolèan. Kau boleh tak percaya.”
“Gak ke dokter, Ba?”
“Aku kurang percaya pada dokter. Mereka itu bajunya saja yang putih. Kita tahu sendiri praktiknya. Di rumah sakit tempat ibadah mereka itu, berapa banyak pasien ditelantarkan
dengan alasan tidak punya biaya. Alasan halusnya tidak menyelesaikan administrasi. Kasarnya kere, gak bisa bayar. Iya to? Lagian mati itu di tangan Tuhan. Berapa banyak yang ke dokter gak sembuh. Dibawa ke kiyai, eeeee jadi panjang umur. Dokter sekarang itu tidak ada bedanya dengan pedagang. Jual jasa dan obat. Diagnosanya cenderung serampangan, ceroboh dan kurang hati-hati. Jangan heran beda dokter beda diagnosa. Lalu kalau tebak-tebakan gitu, lha waktu sekolah dokter dia belajar apa ya?” katanya sambil tersenyum.

“Hidup ini bukan hanya logika, banyak yang supralogis yang terbukti. Soal ilmiah dan tidak itu gak penting. Toh ilmu itu juga tidak bisa menjelaskan semua fenomena. Terbatas indera dan logika manusia yang memang terbatas.”
“Jadi menurut aba ilmu itu tidak penting?” kataku penasaran.
“Bukan tidak penting. Tepatnya bukan satu-satunya. Kebenaran tidak hanya ilmu. Ada kebenaran spiritual yang tidak logis tapi nyatanya berpengaruh. Bagaimana kaum Kuraish kalah dengan kaum muslim padahal mereka tidak lebih kumpulan pengungsi. Dan dari jumlah jauh dari kaum kuraisy kadang-kadang 1:10.”
“Dulu, belum lama rasanya yang menentukan itu kognisi. Sampai ditemukan metode quantum. Tapi metode itu sebenarnya sudah lama terbukti, jauh sebelum dicetuskan. Berapa banyak profesor yang pandai keilmuan ekonominya tak bisa mengurus perusahaan kecil. Dan berapa banyak pengusaha besar yang tidak memiliki pendidikan dibidangnya. Ciputra itu bidang peternakan. Apa hubungannya dengan usahanya yang saat ini. Bob Sadino? Taufiq Ismail kedokteran hewan jadi sastrawan.”

“Yang jelas dalam sakitku, ada banyak yang ternyata kulupakan. Rehat, menakar kembali yang terlewat. Menjadi manusia penuh tanpa elektronika dan dunia digital. Saat itu pula semua pencapaian selama ini perlu ditanya kembali. Untuk apa kalau sudah mati?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar