Cari Blog Ini

Jumat, 22 April 2016

APA PEKERJAAN PAPAMU?

Kali ini bukan Ba Latip yang berbicara. Saya sendiri. Siapa saya? Kalian tidak tahu? Tapi, tahu pun tidak penting. Sebab, saya orang tidak penting. Dan kalian minggir, dengar baik-baik, sebab, orang tidak penting hendak bercerita. Maaf bercanda.
Sepulang sekolah Kacong dan Jhebbhing sibuk dengan mainan-mainannya yang tidak terlalu banyak. Cukup lama mereka bermain sampai saat mamanya, sebut saja Mama, pulang dari sekolah. Mengajar. Karena penat Mama tidur-tiduran di ruang depan. Kacong dan Jhebbhing segera berbaring di kanan kiri Mama. Mungkin bosan dengan mainan mereka. Entah ingatan dari mana Kacong bertanya, “Ma, kata orang Papa itu dosen. Dosen itu apa, Ma?”
“Dosen itu guru di perguruan tinggi.”
“Oh... Tapi, papa bukan guru, Ma.”
“Lalu menurutmu apa pekerjaan Papamu?”
“Pekerjaan Papa itu main game. Kan tiap hari Papa main game. Padahal seharusnya yang main game kan saya, Ma, ya? Saya kan masih kecil, Ma, ya? Papa sudah besar tapi main game.” Mama tersenyum janggal. Ada yang salah dalam kata-kata Kacong. Untuk mengalihkan pembicaraan Mama bertanya, “Kalau mama pekerjaannya apa?”
Dengan pasti dan mantap Jhebbhing menjawab, “Nulis. Tiap hari sepulang dari kerja Mama selalu nulis. Kan, Ma? Jadi kalau mau makan saya harus minta Nenek.”

Istriku menceritakannya tadi malam. Ternyata kesibukan saya dan istri tidak penting bagi mereka. Mereka tidaklah bodoh seperti anggapan saya selama ini. Mereka memperhatikan, menyimpulkan dan dengan lugu memvonis tanpa ampun. Menggugat nurani langsung ke titik fokusnya. Mereka lebih banyak mengobservasi dari pada menyimak yang mereka dengar. Dan sebaliknya yang kita lakukan adalah menyimak apa yang mereka katakan dari pada mengobservasi perilaku mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar