Kali ini bukan Ba Latip yang berbicara. Saya
sendiri. Siapa saya? Kalian tidak tahu? Tapi, tahu pun tidak penting. Sebab,
saya orang tidak penting. Dan kalian minggir, dengar baik-baik, sebab, orang tidak penting
hendak bercerita. Maaf bercanda.
Sepulang sekolah Kacong dan Jhebbhing sibuk
dengan mainan-mainannya yang tidak terlalu banyak. Cukup lama mereka bermain
sampai saat mamanya, sebut saja Mama, pulang dari sekolah. Mengajar. Karena
penat Mama tidur-tiduran di ruang depan. Kacong dan Jhebbhing segera berbaring
di kanan kiri Mama. Mungkin bosan dengan mainan mereka. Entah ingatan dari mana
Kacong bertanya, “Ma, kata orang Papa itu dosen. Dosen itu apa, Ma?”
“Oh... Tapi, papa bukan guru, Ma.”
“Lalu menurutmu apa pekerjaan Papamu?”
“Pekerjaan Papa itu main game. Kan tiap
hari Papa main game. Padahal seharusnya yang main game kan saya, Ma, ya?
Saya kan masih kecil, Ma, ya? Papa sudah besar tapi main game.” Mama
tersenyum janggal. Ada yang salah dalam kata-kata Kacong. Untuk mengalihkan
pembicaraan Mama bertanya, “Kalau mama pekerjaannya apa?”
Dengan pasti dan mantap Jhebbhing menjawab,
“Nulis. Tiap hari sepulang dari kerja Mama selalu nulis. Kan, Ma? Jadi kalau
mau makan saya harus minta Nenek.”
Istriku menceritakannya tadi malam. Ternyata
kesibukan saya dan istri tidak penting bagi mereka. Mereka tidaklah bodoh
seperti anggapan saya selama ini. Mereka memperhatikan, menyimpulkan dan dengan
lugu memvonis tanpa ampun. Menggugat nurani langsung ke titik fokusnya. Mereka
lebih banyak mengobservasi dari pada menyimak yang mereka dengar. Dan
sebaliknya yang kita lakukan adalah menyimak apa yang mereka katakan dari pada
mengobservasi perilaku mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar