Cari Blog Ini

Jumat, 29 April 2016

DALAM SAKIT

Dalam keadaan kurang sehat ia menemuiku memaksa diri untuk duduk meski dalam keadaan lemah. Ia berkata, “Mereka sering menyarankan padaku jangan menyerah pada sakit.” Hening sebentar. “Mereka pikir manusia itu sama. Ada orang yang kalau sakit dibawa kerja bisa sembuh. Ada yang tak menghirau kan sakitnya. Itu pernah ku lakukan. Dan kau tahu? Bukannya sembuh malah sakit semingguku kambuh. Sembilan hari. Kata orang Madura kapolèan. Kau boleh tak percaya.”
“Gak ke dokter, Ba?”
“Aku kurang percaya pada dokter. Mereka itu bajunya saja yang putih. Kita tahu sendiri praktiknya. Di rumah sakit tempat ibadah mereka itu, berapa banyak pasien ditelantarkan

Jumat, 22 April 2016

APA PEKERJAAN PAPAMU?

Kali ini bukan Ba Latip yang berbicara. Saya sendiri. Siapa saya? Kalian tidak tahu? Tapi, tahu pun tidak penting. Sebab, saya orang tidak penting. Dan kalian minggir, dengar baik-baik, sebab, orang tidak penting hendak bercerita. Maaf bercanda.
Sepulang sekolah Kacong dan Jhebbhing sibuk dengan mainan-mainannya yang tidak terlalu banyak. Cukup lama mereka bermain sampai saat mamanya, sebut saja Mama, pulang dari sekolah. Mengajar. Karena penat Mama tidur-tiduran di ruang depan. Kacong dan Jhebbhing segera berbaring di kanan kiri Mama. Mungkin bosan dengan mainan mereka. Entah ingatan dari mana Kacong bertanya, “Ma, kata orang Papa itu dosen. Dosen itu apa, Ma?”

Jumat, 15 April 2016

KAMU BUKAN SASTRAWAN, TAPI POLITISI?

Dalam suasana santai di gardu itu duduk Bung Zaki. Gardu tempat mereka, orang komunitas, berkumpul. Yang lain belum datang. Di tangannya sebuah antologi puisi sastrawan lokal. Dicetak sebagai karya awal. Pengantar harapan dan kebanggaan yang siap diraih. Wajahnya menampakkan rona serius dan fokus. Kadang mengangguk kadang menggeleng. Kadang tersenyum. Tapi lebih banyak mengerutkan dahi. Tak bisa ditafsir apa di kepalanya. Yang terlihat ia hanya membuka-buka lembar-demi lembar. Pada saat tepat datang Sapto mendekat. Penyair muda berbakat. Dengan tekat berusaha cita-cita didapat.
“Lagi asyik, Mas? Serius sekali.” Pembuka bicara yang klasik tapi tetap efektif.
“Ya, bisa dibilang begitu. Buku teman kita. Saya coba mencerna memahami dan menilai.

Jumat, 08 April 2016

PRODUKTIF, MASTERPIECE DAN PASARAN

Mencipta merupakan sifat manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan yang lain. Yah mencipta. Ada yang tinggi karena mencipta yang benar-benar dibutuhkan oleh peradaban seperti teknologi yang membantu paling banyak kemanusiaan seperti bola lampu yang melahirkan dunia elektronik saat ini. Mungkinkah ada televisi ada kalau listrik untuk lampu tidak menyelusup ke area terdalam rumah-rumah? Tentu tidak bukan?
Bagaimana dengan kreasi yang tidak “besar”.
“Produktif sekali kau cipta puisi?” Ba Latip bertanya pada Bang Rosi, seorang penyair muda yang baru-baru ini menerbitkan antologi puisinya.
“Oh, ini bagian dari gejolak muda saya, Ba. Menunjukkan bahwa ada dorongan untuk mencipta.”

Jumat, 01 April 2016

SETIA

Pagi yang cerah. Matahari terang sempurna, tak terhalang mendung atau mega. Di bawah rindang pohon mahoni sebuah halaman sekolah Jhebbhing duduk seorang diri. Pukul 06.30 di sekolah belum terlalu banyak yang datang. Iseng menunggu dan suasana mendukung syahdu membuat novel menjadi alternatif yang tepat menghabiskan waktu. Yah, timbang nganggur.
“Hai, sendirian? Boleh saya duduk bareng?” sebuah suara menarik wajahnya untuk mendongak. Suara yang sangat dia kenal. Setyanto atau Anto. Kakak kelas ganteng, keluarga orang berada, dan yang terpenting cerdas. Pokoknya cool, macho, sempurna. Idaman semua. Orang yang selama ini dekat, akrab dan familiar menjadi penggalan cukup dominan