Pagi-pagi, Kacong duduk minum kopi sambil
mengobrak abrik layar gadget kesayangannya. Mukanya merah menatap tajam
layar LED.
“Bangsat orang-orang Senayan itu!” gerutunya
agak nyaring.
Ba Latip yang sedang merawat burung-burungnya
sedikit mendongak.
“Ada apa Cong? Kok, marah-marah sampai Senayan?
Apa kamu punya urusan dengan orang sana? Setahu Aba kau hanya
mondar-mandir Burneh-Bangkalan, Bangkalan-Burneh. Paling jauh Surabaya. Itu pun
beli buku untuk tugas. Kalau tak ada tugas paling main PS.”
“Ini Ba. Lagi-lagi DPR tertangkap KPK. Makin
banyak saja dari tahun ke tahun. Apa jangan-jangan mereka semua koruptor? Wah, bagaimana
mau maju negara ini kalau dana pembangunannya di korupsi?”
“Lalu?”
“Kalau aku jadi DPR akan kulibas semua. UU KPK
akan kuperkuat. Hukuman koruptor harus diperberat. Dan.....”
“Tapi bagaimana kita tahu, Ba?
Menurutku ganti saja dengan yang baru. Yang muda-muda yang masih jujur. Aku salah
satunya, Ba.”
“Apa ada jaminan kalau yang muda-muda tidak
korupsi?”
“Setidaknya mereka masih idealis.”
Ba Latip menggantung sangkar burungnya. Kemudian
ia berkata. “Cong, cong... mengubah sebuah negara sebesar ini tidaklah mudah. Dan
semua pekerjaan besar itu pasti dimulai dari pekerjaan kecil.”
“Tapi, kalau kecil terus kapan besarnya.”
Aba yang telah selesai dengan burungnya,
rupanya harus ke pasar untuk membeli alat-alat berkebunnya. Maklum pensiunan. Ia
pun menukas.
“Ala Cong, bagaimana bisa menghapus korupsi
kalau hal kecil saja sudah korup. Kemarin di persimpangan Junok angka lampu
merah masih lima kau sudah serobot. Bagaimana bisa sabar dengan godaan besar
kalau menunggu lima detik saja gak kuat.”
Kacong terdiam. Tak lagi yakin dengan semangat
mudanya. DPR? Entahlah.
Mangstaps
BalasHapusLanjutkan!!!!!
5 detik, terkadang 2 detik ajah gak sabar....
BalasHapusbetul
BalasHapus