Cari Blog Ini

Jumat, 04 Maret 2016

KORUPSI

Pagi-pagi, Kacong duduk minum kopi sambil mengobrak abrik layar gadget kesayangannya. Mukanya merah menatap tajam layar LED.
“Bangsat orang-orang Senayan itu!” gerutunya agak nyaring.
Ba Latip yang sedang merawat burung-burungnya sedikit mendongak.
“Ada apa Cong? Kok, marah-marah sampai Senayan? Apa kamu punya urusan dengan orang sana? Setahu Aba kau hanya mondar-mandir Burneh-Bangkalan, Bangkalan-Burneh. Paling jauh Surabaya. Itu pun beli buku untuk tugas. Kalau tak ada tugas paling main PS.”
“Ini Ba. Lagi-lagi DPR tertangkap KPK. Makin banyak saja dari tahun ke tahun. Apa jangan-jangan mereka semua koruptor? Wah, bagaimana mau maju negara ini kalau dana pembangunannya di korupsi?”
“Lalu?”
“Kalau aku jadi DPR akan kulibas semua. UU KPK akan kuperkuat. Hukuman koruptor harus diperberat. Dan.....”

“Emmmm... Tak semua anggota DPR itu tidak jujur. Pasti masih ada.”
“Tapi bagaimana kita tahu, Ba? Menurutku ganti saja dengan yang baru. Yang muda-muda yang masih jujur. Aku salah satunya, Ba.”
“Apa ada jaminan kalau yang muda-muda tidak korupsi?”
“Setidaknya mereka masih idealis.”
Ba Latip menggantung sangkar burungnya. Kemudian ia berkata. “Cong, cong... mengubah sebuah negara sebesar ini tidaklah mudah. Dan semua pekerjaan besar itu pasti dimulai dari pekerjaan kecil.”
“Tapi, kalau kecil terus kapan besarnya.”
Aba yang telah selesai dengan burungnya, rupanya harus ke pasar untuk membeli alat-alat berkebunnya. Maklum pensiunan. Ia pun menukas.
“Ala Cong, bagaimana bisa menghapus korupsi kalau hal kecil saja sudah korup. Kemarin di persimpangan Junok angka lampu merah masih lima kau sudah serobot. Bagaimana bisa sabar dengan godaan besar kalau menunggu lima detik saja gak kuat.”

Kacong terdiam. Tak lagi yakin dengan semangat mudanya. DPR? Entahlah.

3 komentar: