“Wah
geregetan. Coba dekat sudah aku pites-pites. Jengkel. Mana yang setetanggaan
pada sibuk dengan bertengkar di dalam?” Kacong menggerutu sambil mengutak-atik gadjet-nya. Ada
marah dan jengkel pada roman mukanya.
Seperti biasa
Ba Latip yang sedang sibuk dengan burungnya hanya geleng-geleng kepala. “Ada
apa, Cong. Pagi-pagi kok sudah bad mood. Something wrong, yรขh?”
“Ini Ba,
baca berita Palestina dan Israel. Selalu saja ada korban sipil. Mana Amerika
yang katanya polisi dunia. Kok ada pembiaran seperti ini? Kalau ada konflik di
negara ‘Islam’ mereka menari-nari dengan unjuk senjata canggih. Buruknya,
negara-negara Islam yang seharusnya menjadi tumpuan harapan tidak bisa apa-apa.”
“Termasuk
kamu kan yang tidak bisa berbuat apa-apa?” kata Aba sambil tersenyum geli.
“Siapa
bilang, Ba. Saya sudah berbuat banyak mulai dari boikot produk orang-orang
yahudi sampai menghapus yang berbau yahudi.”
“Wah kuno
kamu.”