Cari Blog Ini

Jumat, 25 Maret 2016

ANTI YAHUDI

“Wah geregetan. Coba dekat sudah aku pites-pites. Jengkel. Mana yang setetanggaan pada sibuk dengan bertengkar di dalam?” Kacong menggerutu sambil mengutak-atik gadjet-nya. Ada marah dan jengkel pada roman mukanya.
Seperti biasa Ba Latip yang sedang sibuk dengan burungnya hanya geleng-geleng kepala. “Ada apa, Cong. Pagi-pagi kok sudah bad mood. Something wrong, yรขh?”
“Ini Ba, baca berita Palestina dan Israel. Selalu saja ada korban sipil. Mana Amerika yang katanya polisi dunia. Kok ada pembiaran seperti ini? Kalau ada konflik di negara ‘Islam’ mereka menari-nari dengan unjuk senjata canggih. Buruknya, negara-negara Islam yang seharusnya menjadi tumpuan harapan tidak bisa apa-apa.”
“Termasuk kamu kan yang tidak bisa berbuat apa-apa?” kata Aba sambil tersenyum geli.
“Siapa bilang, Ba. Saya sudah berbuat banyak mulai dari boikot produk orang-orang yahudi sampai menghapus yang berbau yahudi.”
“Wah kuno kamu.”

Jumat, 18 Maret 2016

SASTRAWAN DAN BUKAN SASTRAWAN


Malam ini malam Minggu. Ba Latip tak punya acara untuk dikerjakan atau dihadiri. Terbersit di kepala untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Ah itu kerja. Kasihan otakku harus bekerja penuh dalam satu pekan. Main. Yah, betul. Tapi,.... ke siapa? Tiba-tiba muncul satu nama Bung Helmi teman kuliah dulu. Seorang sastrawan.
Maka dikeluarkan sepeda motor pusaka terbitan jepang yang setia. Motor pun berderum tanda hendak berangkat. Tidak lupa sebuah tas berisi buku dan gadget yang selalu harus dibawa. Melalui Bong Miring ke utara lalu berbelok di Tunjung terus ke barat menuju kota. Dari Kraton ke selatan sampailah di Taroghan. Segera masuk gang menuju rumah Bung Helmi.
Sampai di sana seperti yang terbayang dalam hatinya, tak akan sepi. Banyak orang-orang seni berkumpul. Yah, orang-orang muda. Dengan pembuka salam masuk dan disambut dengan sebuah buku. Buku antologi puisi seorang seniman. Dari musik. Tapi, buat puisi. Unik kan?
“Bagaimana kabarnya?”
“Baik.”
“Tumben kesini.”

Jumat, 11 Maret 2016

ALIRAN SESAT

“Wah, ini baru seru.”
“Apanya yang seru, Cong?” kata Ba Latip.
“Ini, Ba. Kiyai se-Bangkalan bertemu untuk membentuk aliansi menangkal madzhab sesat.” Kata kacong dengan penuh semangat.
“Lo, ada orang bikin aliansi kok seru? Serunya di mana cong?”
“Ya, kan ada dua kubu, nah kubu tradisional rupanya merasa terancam. Makanya merapatkan barisan.”
Setelah menyeruput kopi hitam. “Lalu hasilnya apa cong.”
“Kan sudah jelas tadi Ba? Ya merapatkan barisan.”
“Maksudnya merapatkan barisan itu hasilnya apa?”
“Aliansi, Ba? Pertanyaan Aba ini kok aneh? Gak mutu.”
“Eeee... Jangan salah. Aliansi itu hasilnya apa?”
“Deklarasi.”
“Lalu.”
“Terbentuklah organisasi baru tempat berkumpul.”

Jumat, 04 Maret 2016

KORUPSI

Pagi-pagi, Kacong duduk minum kopi sambil mengobrak abrik layar gadget kesayangannya. Mukanya merah menatap tajam layar LED.
“Bangsat orang-orang Senayan itu!” gerutunya agak nyaring.
Ba Latip yang sedang merawat burung-burungnya sedikit mendongak.
“Ada apa Cong? Kok, marah-marah sampai Senayan? Apa kamu punya urusan dengan orang sana? Setahu Aba kau hanya mondar-mandir Burneh-Bangkalan, Bangkalan-Burneh. Paling jauh Surabaya. Itu pun beli buku untuk tugas. Kalau tak ada tugas paling main PS.”
“Ini Ba. Lagi-lagi DPR tertangkap KPK. Makin banyak saja dari tahun ke tahun. Apa jangan-jangan mereka semua koruptor? Wah, bagaimana mau maju negara ini kalau dana pembangunannya di korupsi?”
“Lalu?”
“Kalau aku jadi DPR akan kulibas semua. UU KPK akan kuperkuat. Hukuman koruptor harus diperberat. Dan.....”